Catatan dari Hari Nusantara 2018 di Tangkiang

harnus tangkiang
Warga yang menyaksikan parade kapal perang pada Hari Nusantara di Pelabuhan Tangkiang. FOTO ISKANDAR



Oleh Iskandar Djiada

Menjaga Laut Merangkai Indonesia


BANGGAI RAYA-Dalam beberapa hari terakhir, Pelabuhan Tangkiang di ujung selatan Kecamatan Kintom, sontak terkenal. Tak hanya menjadi terkenal di kalangan warga Kabupaten Banggai, pelabuhan yang berjarak sekira 40 kilometer dari pusat Kota Luwuk itu, juga menjadi perhatian berbagai kalangan di Sulawesi Tengah dan bahkan nasional.

Ribuan warga, secara bergelombang mendatangi kawasan pelabuhan bongkar muat barang tersebut sejak hampir sepekan terakhir, menyusul penetapan kawasan itu sebagai lokasi peringatan Hari Nusantara. Bukan untuk melihat aktivitas harian pelabuhan, namun kedatangan warga, demi menyaksikan dan mengabadikan langsung alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Sejak pekan lalu,  sejumlah kapal perang kebanggaan Republik Indonesia, memang berlabuh di dermaga Pelabuhan Tangkiang, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Nusantara yang puncak acaranya jatuh pada Kamis, 13 Desember 2018, kemarin. Hari Nusantara, yang tahun 2018 ini digelar di Kabupaten Banggai dan dipusatkan di Pelabuhan Tangkiang, dihadiri langsung Mendagri Tjahjo Kumolo mewakili Presiden RI Joko Widodo.

Berbagai kegiatanpun digelar, mulai dari aksi bersih pantai yang sukses membuat kawasan pesisir pelabuhan itu menjadi super bersih, lomba mancing, bakti sosial kesehatan yang digelar di Puskemas Uling dan di atas kapal bantu rumah sakit KRI dr. Suharso-990, tour atau mengunjungi kapal perang bagi warga, hingga atraksi matra laut yang dipersembahkan oleh pasukan khusus TNI Angkatan Laut dari kesatuan Detasemen Jalamengkara (Denjaka), Komando Pasukan Katak (Kopaska) serta Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Marinir. Berbagai atraksi mulai dari terjun payung, terjun bebas dari helikopter ke atas laut, terjun payung dengan sasaran pendaratan di atas ponton apung serta keahlian mengendarai jetski dan ditutup dengan parade kapal atau sailing pass, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sejak masa awal latihan hingga puncak acara Kamis kemarin. TNI Angkatan Laut sendiri mendatangkan lima Kapal perang Republik Indonesia atau KRI, yakni KRI dr.Suharso, KRI Banda Aceh, KRI Madidihang, KRI Untung Suropati dan KRI Ajak, ditambah dengan satu unit kapal dari Bakamla.

Secara umum, seluruh rangkaian acara peringatan Hari Nusantara yang menyedot perhatian ribuan warga Kabupaten Banggai itu berlangsung lancar, aman dan sukses. Sebagaimana pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo, Kamis (13/12/2018), meski hanya dalam waktu singkat, namun Kabupaten Banggai bisa mempersiapkan dan menggelar kegiatan dengan baik serta sukses. Karenanya, Mendagri atas nama Presiden RI Joko Widodo, menyampaikan apresiasi pada Bupati Herwin Yatim dan jajarannya yang sukses menggelar kegiatan nasional tersebut.

Namun di balik suksesnya kegiatan, mungkin banyak yang belum terlalu paham dengan apa itu Hari Nusantara. Tak heran, bila beberapa hari sebelumnya, ada kelompok massa yang dengan pengetahuan terbatasnya, mempersamakan kegiatan Hari Nusantara dengan sebuah kegiatan lain. Beberapa pihak memang tidak paham atau bisa jadi buta sejarah tentang perjalanan bangsa sejak kemerdekaannya, hingga kemudian bisa memiliki kedaulatan penuh, termasuk berdaulat di laut.
Hari Nusantara yang setiap tahun diperingati tanggal 13 Desember, bermulai dari kondisi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, yang oleh negara lain hanya diakui berdaulat di darat. Perairan yang mengelilingi pulau-pulau ketika itu, dianggap sebagai laut bebas. Kondisi ini tentu mengancam kedaulatan Republik Indonesia. Karenanya, di masa sistem parlementer dan kepala pemerintahan dijabat Perdana Menteri Republik Indonesia Djuanda Kartawidjaya, lahirlah gagasannya untuk menegakkan kedaulatan Indonesia yang seutuhnya dengan menjadikan laut sebagai bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.  Lahirlah dokumen yang disebut sebagai Deklarasi Djuanda.

Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya, dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia, tetapi waktu itu belum diakui secara internasional.
Berdasarkan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar (kecuali Irian Jaya), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut.

Setelah melalui perjuangan yang penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan hari ini dipertegas oleh Presiden Megawati dengan menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 tentang Hari Nusantara, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional tidak libur.

Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan: (1) bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri, (2) bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan, (3) ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan : (1) untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat, (2) untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan, (3) untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Dekalarsi Djuanda sendiri dianggap sebagai pernyataan resmi kemerdekaan yang kedua, karena mempertegas bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat di darat dan di laut. Laut bukanlah pemisah bagi pulau-pulau di gugusan kepulauan Republik Indonesia, namun pemersatu gugusan kepulauan tersebut. Menjaga laut dan kedaulatannya, sama dengan menjaga Indonesia, sebab laut adalah kawasan yang merangkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah penetapan Hari Nusantara, pemerintah kemudian menunjuk Kementerian Dalam Negeri sebagai penyelenggara, dengan operasional di lapangan dilakukan oleh oleh TNI Angkatan Laut, sebagai penjaga dan pengawal kawasan laut Republik Indonesia. Karenanya, peringatan Hari Nusantara sangat lekat dengan TNI Angkatan Laut, termasuk peringatan yang baru saja digelar di Pelabuhan Tangkiang, Kabupaten Banggai.

Selain untuk meneguhkan kedaulatan Indonesia di wilayah laut, Hari Nusantara juga menjadi momen untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa di laut ada potensi kekayaan nasional yang besar, dan bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat serta pembangunan bangsa. Dalam istilah yang disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo kemarin, sudah saatnya bagi kita untuk tidak memunggungi laut.

Momentum Hari Nusantara, harus dimanfaatkan pula untuk mempertegas sikap seluruh elemen untuk menolak perusakan laut, dan siap melawan praktik-praktik perusakan sumber daya dan biota laut.  Termasuk dalam hal terkecil, adalah menolak  praktik tak terpuji yang menjadikan laut sebagai tempat berbagai jenis sampah. Dalam skala paling kecil inilah, seluruh elemen di Kabupaten Banggai bisa menunjukkan perannya untuk menjaga kawasan perairan agar tetap bersih dan lestari, sehingga bisa menjadi sumber kehidupan di masa mendatang. Selamat Hari Nusantara.**

WARGA DIHIMBAU WASPADA

*Rumah Warga Terendam, Pemda Perbaiki Infrastruktur Rusak


BANGGAI RAYA- Warga yang terkena dampak banjir akibat curah hujan dengan intensitas tinggi selama sehari diminta untuk tetap waspada. Permintaan untuk meningkatkan kewaspadaan bersama itu diungkap Bupati Herwin Yatim kepada Banggai Raya via telepon genggamnya, Rabu (30/5/2018) tadi malam.

Terhadap kondisi yang dialami warga di sejumlah desa di berbagai kecamatan, Bupati Herwin Yatim meyakinkan bahwa Pemda Banggai tidak tinggal diam. Pemda berkewajiban menangani masalah rakyatnya. “Kepada seluruh masyarakat yang terkena banjir, tim teknis Pemda Banggai terdiri dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Sosial serta Dinas PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) sudah turun memantau,” tutur Bupati Herwin di ujung ponselnya.

Banjir yang melanda beberapa desa di Kecamatan Lamala, Masama, Nambo, Kintom, Batui, Batui Selatan, Kecamatan Toili serta Moilong akibat curah hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ini.

Berdasarkan data Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika yang diterima Herwin Yatim bahwa curah hujan tidak seperti biasanya. Kondisi ini diakuinya, membutuhkan perhatian dan peningkatan kewaspadaan bersama.

Dirinya memastikan bahwa infrastruktur yang rusak akibat banjir tersebut akan segera ditangani. “Insya Allah, infrastruktur yang rusak akan segera ditangani,” tekan dia.

Sementara rumah dan fasilitas publik lainnya yang masih terendam banjir kata dia, akan dibuat perencanaan di areal pemukiman warga. Sehingga, dampak banjir kedepan tidak akan terulang seperti genangan air tidak mengarah ke rumah warga atau tidak dalam jangkan waktu lama genangannya langsung surut.

“Kedepan pemda akan mencari solusi, sehingga genangan air banjir bisa tidak dalam beberapa jam, tetapi bisa langsung masuk atau terbuang ke laut. Di antaranya, pembuatan drainase dan gorong-gorong atau box culvert yang lebih besar dan membuat aliran sungai yang lebih besar/normalisasi sungai,” demikian Herwin Yatim.

RUMAH WARGA DIGENANGI AIR

Berdasarkan data yang dihimpun Banggai Raya, hingga malam tadi, terdapat beberapa titik banjir menggenangi perumahan warga.

Di Desa Runsa Kecana, Kecamatan Toili, empat kepala keluarga terpaksa harus dievakuasi oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) pada Rabu (30/5/2018) sekitar pukul 11.00 Wita. Menyusul debit air di wilayah itu terus bertambah akibat curah hujan yang cukup tinggi sejak malam Rabu dini hari.

Danramil 1308/03 Batui, Kapten Inf Herman mengatakan, warga yang rumahnya terendam banjir dievakuasi ke rumah warga yang berada di ketinggian. Empat kepala keluarga yang telah dievakuasi tersebut keluarga Arpan (60), Keluarga Misjan (57), keluarga Sumarno (40) keluarga Bawon (34). Evakuasi yang dilakukan oleh Babinsa tersebut berupa menyelamatkan barang berharga milik warga.

“Empat rumah warga yang terendam itu berada di daerah rendah, banjir juga menutup badan jalan Trans Sulawesi di Desa Rusa Kencana sekitar 1 KM dengan ketinggian mencapai 50 Cm. Hingga pukul 18.00 Wita, kondisi air belum juga surut,” kata Kapten Herman.

Selain evakuasi, pihaknya juga telah menghimbau kepada warga yang berada di daerah yang mudah dilalui banjir untuk berhati-hati dan selalu melihat kondisi air. Mengingat, saat ini kondisi curah hujan terus bertambah.

Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Bahari Makmur, Kecamatan Lamala, sejak Selasa malam (29/5/2018) akibat curah hujan yang cukup tinggi, luapan air menutup bandan jalan yang menghubungkan Desa Bahari Makmur dan Tangeban. Akses jalur darat yang menghubungkan Kecamatan Masama dan Lamala putus.

Warga memilih akses jalur laut dari Desa Kota Raya ke Desa Bone Bakal. Selain itu, tambak ikan milik warga ikut direndam banjir. Belum dipastikan berapa kerugian warga. Sedangkan untuk Kecamatan Balantak Selatan ada pula rumah yang ikut direndam banjir, belum dipastikan berapa jumlah rumah, tetapi informasi menyebutkan banjir terjadi di Desa Sepe dan Desa Dondo.

Terpisah Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Nurman Syahreda dikonfrimasi mengatakan, terkait dengan musim penghujan sejak beberapa hari ini, telah diinstruksikan kepada Danramil dan Babinsa yang berada di wilayah teritorial Kodim 1308 Luwuk Banggai membawahi Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai Laut, agar berkoordinasi dengan aparat kewilayahan lain. Dengan kewaspadaan terhadap bencana banjir dan tanah longsor serta angin dan bencanan lainya.

Dandim Nurman Syahreda juga menginstruksikan untuk membantu melakukan evakuasi warga sewaktu terjadi bencana banjir, tanah longsor dan bencana lainya.

“Saya telah perintahkan agar jajaran saya untuk siaga melakukan pemantauan kondisi warga yang berada di lokasi yang mudah terkena bencana banjir, tanah longsor, kemudian membantu melakukan evakuasi warga yang terancam banjir. Himbauan ini bukan hanya tugas BPBD saja, tetapi tugas semua pihak termasuk kita TNI untuk mengamankan rakyat dari bencana, sehingga tidak terjadi Korban,” tegas Dandim Nurman Syahreda.

Kata dia, Rabu (30/5/2018), bencana banjir tidak hanya terjadi di wilayah Banggai, tetapi di Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Banggai Kepulauan. Di Kabupaten Banggai Laut, banjir melanda Kelurahan Tano Bonunungan, Kecamatan Banggai, sekitar pukul 15.55 Wita air meluap ke permukaan jalan dan merendam rumah warga setinggi 20 Cm. Sampai saat ini, kondisi air di Keluarah Tano Bonunungan belum juga surut akibat curah hujan belum reda.

Situasi yang sama juga terjadi di Desa Malanggong, Tataba, Labasiano, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Di Desa Malanggong belasan rumah warga dan fasilitas sekolah ikut terendam air dengan ketinggian mencapai 40 Cm. Akivitas sekolah diberhentikan. Saat ini warga yang rumahnya terendam dievakuasi ke lokasi ketinggian.

Menurut warga Kecamatan Buko, Rahman mengatakan, ketinggian air secara perlahan mulai naik hingga mencapai pinggang orang dewasa. Hanya saja belum ada warga yang mengungsi ke tempat lainnya, karena tercatat hanya ada 11 rumah warga di tiga dusun yang terendam banjir.

Ditambahkan Rahman, untuk dusun satu ada dua rumah warga, di dusun dua sebanyak enam rumah dan dusun tiga ada tiga rumah yang terendam banjir. Belum ada korban jiwa hanya saja diperkirakan kerugian materil mencapai jutaan rupiah.

“Data yang saya peroleh di wilayah Desa Malanggong itu ada sebelas rumah warga dari tiga dusun yang kebanjiran, belum ada korban jiwa tapi kerugian materil jutaan rupiah,” ungkapnya.

Dilaporkan juga sampai saat ini kondisi banjir belum surut, bahkan ketinggian air cenderung bertambah karena hujan masih terus mengguyur wilayah Kecamatan Buko. Warga rencananya akan diungsikan apabila ketinggian air sudah melewati ketinggian orang dewasa dan mengancam keselamatan nyawa.

Sementara di Kecamatan Toili, desa yang rumah warganya tergenang air yaitu di Mansahang, Rusakencana, Cendanapura, Tanah Abang, Jaya Kencana, Sentral Sari, Sentral Timur, Tirtakencana, Tirtasari, Mekar Kencana, Marga Kencana, Mulyasari, Tirtajaya, Saribuana, Tohitisari, dan Tolisu, Sindang Baru dan Piondo.

Dari seluruh desa yang terendam banjir, Rusakencana salah satu yang setiap tahun menjadi langganan. Rumah kepala desa (Kades) Rusakencana, Mujianto yang berbentuk panggung terendam air. Menurut tetangganya, Siti Rahmawati, Mujianto tidak mengungsi dan tetap berada di dalam rumah.

Sementara di Piondo, warga yang tengah terlelap tidur malam hari dikagetkan dengan tempat tidurnya sudah terendam air dan terbangun dalam keadaan basah kuyup. Banjir juga menyebabkan padi yang baru dipanen ludes dibawa banjir.

Yang paling merasakan dampak akibat banjir adalah warga Sindang Baru. Selain rumah sebagian warga terendam banjir, mereka juga terisolir dari desa tetangga. Kondisi tersebut akan terus dirasakan warga selama hujan tidak kunjung reda.

Dari pantauan awak media ini, tidak ada korban jiwa selama banjir terjadi. Namun warga yang rumahnya terendam terpaksa harus mengungsi ke rumah keluarga yang tidak terdampak banjir.

Kecamatan Toili yang sedang memasuki waktu panen padi, menyebabkan ratusan hektar lahan persawahan siap panen rusak terendam air. Sedangkan petani yang telah lebih dahulu panen sebagian gabahnya menjadi rusak karna tidak bisa dijemur.

Di Kecamatan Lamala Desa Bahari Makmur menyebabkan sungai desa itu meluap. Ternak milik warga menjadi korban. Lima ekor sapi mati, karena kedinginan dibawa banjir. Demikian halnya dengan tambak udang dua lokasi yang dipenuhi bibit udang dan ikan nila mencapai 300 ribu ekor milik Bahrudin Talibo ikut terbawa arus.

Kepala Desa Bahari Makmur, Armat Lamana mengatakan bahwa pada malam hari dirinya berdsama Babinsa Kopda Takdir Y. Saleh memantau lokasi perkampungan. Banyak warga yang melintasi jalan poros ini perlu bantuan untuk menyeberang. Termasuk salah satu anggota Polsek Lamala yang kembali tugas piket untuk menuju rumahnya di Desa Serese.

Beberapa tokoh masyarakat berkumpul di rumah kepala desa sempat berdialog untuk mengatasi bencana alam yang setiap musim penghujan selalu mengancam perkampungan. Fakta itu mengusik kenyamanan warga.

Parahnya lagi, ketika ketika perkebunan pohon sagu ditumbang dan dijadikan lokasi persawahan, sehingga air dengan deras mengalir di saluran sungai dan meluap saat air laut pasang.

Tanggul yang dibangun oleh pemerintah pusat sudah jebol, karena dibangun tidak maksimal. Mereka berharap, pembangunan tanggul penahan aliran air dan saluran sungai di tengah perkampungan dipindahkan salurannya. Dengan begitu, air yang ada di anak-anak sungai tidak meluap ke saluran sungai besar.

Begitu juga banjir yang melanda Desa Dondo Kecamatan Balantak Selatan. Harapan warga, jembatan yang dibangun ditambah volumenya, agar bisa menampung derasnya aliran air dalam volume besar dapat melewati jembatan tersebut.

BERDAMPAK PERTANIAN

Koordinator Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangamat Hama dan Penyakit (POPT-PHP) Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah, Aloysius Nasus mengatakan, perubahan iklim dan kondisi curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan banjir di beberapa wilayah Kabupaten Banggai berdampak terhadap lahan pertanian warga.

Dari hasil monitoring di lapangan, areal cetak sawah yang mengalami gagal panen terdapat di Kecamatan Toili Barat, Desa Uwelolu. Per tanggal 28 Mei 2018, sebanyak 763 hektar persawahan yang mengalami puso. Kemudian per tanggal 30 mei 2018, areal sawah yang mengalami puso juga bertambah seluas 4,8 hektar.

Sedangkan untuk Kecamatan Toili, Moilong, Batui Selatan, Batui, Masama dan Lamala, saat ini sedang dilakukan pemantauan di lapangan. Di kecamatan tersebut juga sedang dalam tahap pengelolaan lahan dan sebagian pula dalam tahap pembibitan. Pihaknya juga telah menghimbau kepada petugas POPT dan PHL POPT, supaya dimonitoring tanaman pangan hortikultura dan perkebunan dampak akibat perubahan iklim (DPI) banjir. NAL/MAD/IKB/CR2/MIN

Rakor Ops Ketupat 2018, PLN Surplus Daya, Stok BBM Aman

BANGGAI RAYA- PLN Cabang Luwuk memastikan pelayanan listrik di daerah ini tidak ada masalah. PLN Luwuk memiliki surplus daya, seperti di Kecamatan Bualemo, kondisi pelayanan listrik telah maksimal. Sebab, PLN telah menambah mesin. Demikian halnya dengan di wilayah Kota Luwuk, PLN memiliki surplus daya.

Kepastian itu terungkap ketika rapat koordinasi Operasi Ketupat Tinombala 2018 dalam rangka pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah, Selasa (5/4/2018). Pertemuan itu dihadiri unsur Forkopimda, sejumlah OPD Pemda Banggai, Kepala BUMN serta para Kapolsek.

Untuk pelayanan listrik di Kecamatan Bunta, Nuhon dan Simpang Raya, PLN telah menambah satu mesin. Makin maksimal pelayanannya, karena selain disuplai tenaga dari PLN Ranting Ampana dibantu pula pembangkit listrik di Bunta. Di tiga kecamatan itu, terbilang surplus daya.

Kondisi yang sama juga di wilayah Toili, Toili Barat, Moilong, Batui Selatan dan sebagian wilayah Batui juga mengalami surplus.

Sedangkan untuk Masjid Agung, PLN Luwuk telah menyiapkan satu unit mesin genset. Ini untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Pada intinya untuk seluruh wilayah di Kabupaten Banggai memiliki surplus daya, dan tidak ada persoalan. Begitu juga dengan karyawan PLN juga disiagakan. PLN tidak ada libur, sejumlah karyawan disiagakan,” ungkap salah satu perwakilan PLN Cabang Luwuk.

Selain urusan listrik, pertemuan tersebut juga membahas ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). “Sepuluh hari kedepan, stok Pertalite tersedia. Begitu juga dengan stok lainya juga masih tersedia untuk 12 hari kedepan. Bahkan jika tidak ada kendala suplai BBM akan segera tiba, tergantung kondisi cuaca,” ujar perwakilan Pertamina.

Kendala suplai BBM ke wilayah Bunta dan Pagimana diakibatkan longsor, sehingga Pertamina meminta kepada intansi teknis selalu siaga ketika terjadi longsor.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Banggai, Paiman Karto menyampaikan titik lokasi wisata yang ramai dikunjungi warga. Menurutnya, lokasi wisata itu adalah Pantai Minahaki, Kecamatan Toili, pantai hek Kecamatan Nuhon, wisata Salodik, Pulo Dua Kecamatan Balantak Utara serta pantai KM 5.

Lokasi wisata tersebut ramai dikunjungi selama sepekan pascalebaran atau yang disebut dengan lebaran ketupat.

Dinas Perhubungan Banggai menyampaikan kesiapannya. Instansi ini menyiapkan sejumlah pos yang ditentukan oleh Polres Banggai. Arus mudik dan arus balik lebaran juga diantisipasi Dinas Perhubungan.

Saat ini, kendaraan yang tersedia di Terminal Biak berjumlah 134 armada. Armada itu melayani wilayah utara dan selatan Kabupaten Banggai. Sedangkan untuk Terminal KM 8, sebanyak 54 unit armada melayani trayek menuju Batui, Toili hingga Baturube.

Seandainya terjadi lonjakan penumpang, Dishub akan menyiapkan armada cadangan seperti angkutan kota. Pemprov Sulteng juga menyiapkan armada gratis khususnya yang mudik dari Palu tujuan Luwuk.

Kepala Syahbandar Luwuk menyampaikan kondisi saat ini lonjakan penumpang melalui pelabuhan Luwuk menuju Banggai Kepulauan, Banggai Laut dan Maluku Utara masih sepi.

Seandainya terjadi lonjakan penumpangan, pihak syahbandar telah mengantisipasi dan telah menyiapkan sejumlah armada laut. Untuk saat ini, armada laut yang tersedia adalah kapal ferry, kapal cepat dan kapal penumpang yang aktif melayani penyebarangan ke Balut dan Bangkep.

“Kita juga telah kedatangan kapal kapal cepat dan akan beroperasi mulai tanggal 7 Juni. Untuk jadwal pemberangkatanya dari pelabuhan Luwuk pukul 13:00 Wita menuju Banggai Kepulauan. Sedangkan untuk jadwal kapal Tilong Kabila akan tiba setelah tiga hari pascalebaran. Masalah lonjakan penumpang kapal yang melayani penyeberangan Luwuk-Bangkurung telah teratasi dan tidak mengalami kejadian seperti tahun kemarin. Saat ini, kapal yang melayani penyeberangan Luwuk-Bangkurung sebanyak tiga unit kapal,” ujar Kepala Syahbandar Luwuk.

Rakor Operasi Tinombala tersebut dipimpin Kapolres Banggai, AKBP. Moch Soleh. Pertemuan digelar di ruang rapat umum Mapolres Banggai.

Kapolres AKBD Moch. Sholeh menyatakan bahwa pertemuan itu menyamakan persepsi, konsep dan pola tindak dalam kegiatan pengamanan seluruh rangkaian perayaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini. MAD

Bakti Kesehatan Awali Harnus


BANGGAI RAYA-Rangkaian kegiatan Hari Nusantara (Harnus) tahun 2018 yang digelar di Kabupaten Banggai dan puncak acaranya jatuh pada Kamis (13/12/2018), telah dimulai sejak Selasa (11/12/2018). Kegiatan yang dipusatkan di Pelabuhan Tangkiang, Kecamatan Kintom itu, diawali dengan kegiatan bakti kesehatan berupa pelayanan kesehatan gratis terhadap warga Kabupaten Banggai.

Untuk Selasa kemarin, kegiatan bakti kesehatan digelar di dua lokasi, yakni di Puskesmas Uling Kecamatan Kintom, dan di atas KRI dr Suharso-990 yang berlabuh di Pelabuhan Tangkiang.

Wakil Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan TNI Angkatan Laut Letkol L (K) Joko Haryono, SE yang ditemui di sela-sela kegiatan bakti kesehatan di Puskesmas Uling, Selasa kemarin, mengatakan, kegiatan pelayanan kesehatan berupa pengobatan akan berlangsung selama tiga hari sejak Selasa hingga Kamis (11-12/12/2018). Untuk pengobatan hari pertama kemarin dan Rabu ini, dilaksanakan di Puskesmas Uling dan KRI dr. Suharso, sementara pelaksanaan hari ketiga pada Kamis besok, hanya dilaksanakan di KRI dr. Suharso.  “Jadi kegiatan pelayanan kesehatan untuk warga ini dilaksanakan selama tiga hari,” tuturnya.

Guna menunjang kegiatan bakti kesehatan itu kata Joko, TNI Angkatan Laut mengerahkan 76 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter dan perawat, ditambah dengan lima dokter umum dan tiga dokter gigi dari Dinas Kesehatan, serta petugas PPLKB dan petugas unit transfusi darah. Kegiatan bakti kesehatan terdiri dari pengobatan umum dengan target 1.000 orang, pemeriksaan kesehatan gigi untuk 150 orang, khitanan atau sunatan massal untuk 150 orang dan operasi katarak untuk 50 orang serta donor darah. Khusus untuk operasi katarak kata Joko, dilaksanakan di KRI dr. Suharso yang merupakan rumah sakit apung atau kapal bantu rumah sakit (BRS) TNI Angkatan Laut.

Pemeriksaan kesehatan untuk warga yang merupakan bagian tak terpisahkan Hari Nusantara, mendapatkan apresiasi masyarakat dan pemerintah desa. Mereka menyatakan terima kasihnya pada pemerintah, khususnya TNI Angkatan Laut, yang telah melaksanakan pelayanan kesehatan bagi warga.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Hari Nusantara yang digelar setiap tanggal 13 Desember, untuk tahun 2018 ini dilaksanakan di Kabupaten Banggai. Kegiatan yang dipusatkan di Pelabuhan Tangkiang, Kecamatan Kintom, diisi dengan sejumlah kegiatan mulai dari pelayanan kesehatan, parade kapal atau sailing pass, upacara pada Kamis besok serta berbagai kegiatan lain. Pada puncak acara Kamis besok, akan ada pula tarian kolosal yang diikuti ratusan penari.DAR

KETERANGAN FOTO: Pemeriksaan kesehatan untuk warga yang dilaksanakan tim kesehatan TNI Angkatan Laut dan Dinkes Banggai. FOTO ISKANDAR

Harnus di Tangkiang

Om susupo baca di koran kamarin, ini torang pe daerah mo jadi tuan rumahnya Hari Nusantara atau Harnus. Yah, kegiatan yang mungkin mo dihadirinya Presiden Jokowi itu, tantu nanti bisa babikin ini torang pe daerah makin terkenal. Bayangkan, ada barapa kegiatan yang mo dibikin, mulai dari pengobatan, parade kapal prang, parade parahu deng kapal hias,deng masih banyak lagi kegiatan laen. Om susupo dengar-dengar, mo ada juga pembagian sertifikat deng peresmian pabrik basaar sama torang pe daerah.

Yah buat om susupo, itu kegiatan kalu jadi sama torang pe daerah, tantu bisa babikin ini perhatiannya pamarentah pusat sama torang pe daerah makin basaar. Kan ada banyak pajabat yang hadir, kon itu tantu diharap bisa badorong program buat taon-taon depan, apalagi kalu depe pamarentahan tasambung turuus. Ini kegiatan biar di Tangkiang yang maso Kabupaten Banggai, tapi tantu depe dampak diharap bisa tarasa di samua daerah tetangga.

Om susupo juga bapikir, karna ini mo ada kegiatannya angkatan laut, tantu jadi bagus, karna ada yang bisa diliat-liat, rupa parade kapal prang. Ini juga buat bakase liat sama torang samua, kalu torang pe TNI siap bajaga ini negara, siap bajaga samua rakyat, supaya pembangunan bajalan lancar. Kon buat ini yang biasa masih bakalakuan rupa babom-bom ikan, lebeh bae berenti kasian, jang nanti dikarbas, jang nanti dihukum, baru mo kalangkabut.

Om susupo sandiri baharap, ini patugas rupa angkatan laut, baku bantu bakarbas ini tukang kase rusak laut, rupa tukang bom ikan. Yah memang ini tukang kase rusak laut, biasa babasambunyi. Cuma carita soal itu masih ada, apalagi di daerah-daerah yang susah dijaganya patugas deng depe peralatan yang blum talalo mantap. Tagal itu, kalu memang mo karbas ini tukang kase rusak laut, rupa tukang bom ikan, samua kekuatan parlu baku bantu, terutama ini angkatan laut yang memang depe peralatan lengkap. Kalu parlu buat ini tukang bom ikan, jang kase ampun, tapi langsung bage deng mariam kasana depe kapal atau parahu, supaya dorang rasa-rasa.**

Bupati Balut: Guru Miliki Sejuta Ilmu


BANGGAI RAYA – Dalam rangka memperingati Hari ulang tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia yang ke-73, Pemda Banggai Laut (Balut)menggelar upacara bendera pada Senin (26/11/2018) di Desa Matangga, Kecamatan Banggai Selatan.

Pada upacara tersebut, Bupati Banggai Laut, H. Wenny Bukamo bertindak sebagai Inspektur Upacara dan dihadiri oleh Sekda Balut, Furqanuddin Masulili dan sejumlah Pimpinan OPD. Tak hanya itu, upacara juga dipadati dewan guru se Banggai Laut.

Setelah pelaksanaan uparaca, dilanjutkan dengan kegiatan Konferensi Kabupaten ke-II PGRI Balut yang dibuka langsung oleh Bupati H. Wenny Bukamo.

Pada kesempatan itu, Bupati Wenny Bukamo berharap agar di konferensi ke II kali ini bisa menghasikan rekomendasi. “Saya tegaskan dan berharap agar pada Konferensi Kerja Kabupaten ke-II PGRI ini bisa mengahasilkan rekomendasi khususnya di bidang pendidikan yang diperuntukan pada pemerintah daerah,” harap orang nomor satu di Balut itu.

Menurutnya, hal itu agar kebijakan Pemda Balut di bidang pendidikan bisa tepat sasaran dan berdaya guna. “Dengan mengunakan prinsip efektif dan efisien demi kemajuan pendidikan di kabupaten yang kita cintai ini,” kata Wenny.

Di akhir sambutannya, Bupati Wenny meminta agar dialog terbuka itu bisa dilakukan kapan saja dengan diprakarsai oleh PGRI. “Karena dalam jiwa para guru tersimpan sejuta ilmu, karena yakin dan percaya dalam jiwa guru pasti banyak aspirasi yang tidak tersampaikan,” tuturnya.

Usai membuka konferensi, Bupati H. Wenny Bukamo serta beberapa OPD melakukan peninjauan pada beberapa obyek bangunan pemerintah baik yang dianggarkan tahun ini maupun beberapa tahun lalu di wilayah Desa Matangga yang merupakan Ibu Kota Kecamatan Banggai Selatan. ASW

Keterngan Foto: Bupati Balut, Wenny Bukamo selaku inspektur upacara di HUT PGRI ke-73. FOTO: ASWAN BASIR

Kembangkan Wisata Pantai Makakata - Batui, SCC JOB Tomori Tanam Karang


BANGGAI RAYA-Sebagai perusahaan yang mendapatkan kepercayaan dari negara melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Joint Operating Body Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) yang menjadi operator di Blok Senoro, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, tak hanya melakukan kegiatan operasi produksi migas. Perusahaan hulu migas itu juga terikat dengan tiga komitmen utama, yakni mengutamakan kesehatan pekerja, kelestarian lingkungan, serta membangun harmonisasi dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Komitmen itu dilakukan demi kesinambungan kehidupan di masa mendatang.

Sebagai salah satu upaya nyata mewujudkan ketiga komitmen tersebut, Senoro Cycling Club (SCC) yang merupakan wadah berhimpun karyawan dan karyawati JOB Tomori, dan memiliki hoby berolah raga mengayuh sepeda serta gemar berpartisipasi dalam kegiatan sosial dengan masyarakat, menggelar kegiatan lingkungan bertempat di Pantai Makakata, Kecamatan Batui, Minggu (4/11/2018).

Agenda kali itu diawali dengan bersepeda menempuh jarak sekira 18 kilometer dari pabrik CPP Senoro di Desa Paisubololi, Kecamatan Batui Selatan menuju Pantai Makakata. Kegiatan yang dilaksanakan hari Minggu itu, adalah konservasi laut berupa edukasi dan penanaman karang, dalam rangka memperingatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang diperingati setiap tanggal 5 November.

Kegiatan di Minggu pagi itu dimulai dengan pengambilan bibit karang di lokasi terumbu karang dan penentuan lokasi penanaman karang yang sudah disurvei sebelumnya. Kemudian dilakukan pengikatan bibit karang ke rak perawatan karang, setelah sebelumnya diawali dengan briefing singkat tentang teknik pengikatan bibit karang. Rak perawatan ini terbuat dari material sisa yang sudah tidak dipergunakan lagi dan kemudian dirangkai untuk dijadikan media transplantasi karang. Rak yang sudah diikat bibit karang kemudian dibawa ke lokasi transplantasi yang sudah ditentukan, untuk ditenggelamkan ke dasar perairan.

Penanaman karang ini mendapat perhatian dari masyarakat pengunjung Pantai Makakata, karena lokasi tersebut merupakan area rekreasi yang sering dikunjungi masyarakat untuk berwisata bersama keluarga, utamanya di hari libur. Mereka dengan antusias mendengar penjelasan tentang proses penanaman karang dan manfaat terumbu karang bagi kehidupan manusia.

Dengan meningkatnya kualitas terumbu karang di Pantai Makakata, akan berdampak langsung bagi peningkatan populasi biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang seperti ikan, kerang, tanaman laut dan lainnya sebagai sumber utama mata pencaharian nelayan. Dari sisi pariwisata, kondisi terumbu karang yang kaya dan sehat, akan memperindah pemandangan bawah laut yang akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Makakata Batui.

Field Senior Manager (FSM) JOB Tomori, Iwan Sutrisno, memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif yang digagas SCC tersebut. Ia bahkan mendorong untuk terus meningkatkan kegiatan serupa, dengan melibatkan banyak pihak, seperti unsur dari Pemda Banggai dan melibatkan lebih banyak masyarakat, dengan harapan semakin banyak warga yang sadar akan pentingnya melindungi ekosistem laut, khususnya ekosistem terumbu karang.DAR/PR

Pemda Balut Gelar Festival Malabot Tumpe


BANGGAI RAYA – Sudah menjadi tradisi turun temurun, telur burung Maleo yang berada di hutan lindung Bangkiriang, sebelum dikonsumsi oleh masyarakat sekitar (Kecamatan Batui) Kabupaten Banggai harus dibawah ke Kedatonan Banggai, Banggai Laut (Balut).

Dengan melihat momen yang sangat sakral dan membudaya inilah, maka Pemda Balut melalui Dinas Parawisata dan Kebudayaan menyambut momentum yang baik ini dengan mengadakan Festival Malabot Tumbe. Kegiatan dilaksanakan selama 4 (empat) hari yakni, 4-7 Desember 2018. Kegiatan yang dipusatkan di Alun-Alun Taman Kota Banggai ini, dibuka Bupati Balut, Wenny Bukamo, Selasa (4/12/2018).

Wennyi Bukamo dalam sambutanya mengatakan, budaya yang sudah menjadi turun temurun ini perlu dijaga kelestariannya. Sehingganya melalui Festival Malabot Tumbe dapat mengingatkan betapa pentingnya warisan budaya.

“Selaku Pemerintah Daerah menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan Festival Malabot Tumbe ini. Dengan kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi,” ujarnya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh perangkat adat. “Semoga budaya ini akan terus lestari selama-lamanya,” ujarnya. ASW

Pemda Touna Siap Terima Mahasiswa KKN Unismuh

Wakil Bupati Touna, Admin AS Lasimpala, foto bersama dengan Wakil Rektor II Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa dan jajarannya beberapa hari lalu. FOTO: ISTIMEWA
Wakil Bupati Touna, Admin AS Lasimpala, foto bersama dengan Wakil Rektor II Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa dan jajarannya beberapa hari lalu. FOTO: ISTIMEWA 
BANGGAI RAYA- Belum lama ini, Wakil Rektor II Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa bersama Ketua LP3M, Sri Sukari Agustina dan beberapa dosen melakukan kunjungan ke Pemda Tojo Una una. Kunjungan itu diterima langsung oleh Wakil Bupati Tojo Una una, Admin AS Lasimpala pada Jumat (28/12/2018) di ruang kerjanya. 

Wakil Rektor II Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa mengatakan, kunjungan itu dalam rangka meminta persetujuan Pemda Touna untuk penempatan mahasiswa KKN di kabupaten tersebut. “Surat sudah kita kirim sejak 2 Oktober 2018. Namun sampai kemarin itu belum juga ada balasan. Jadi kita datangi langsung, ternyata surat belum masuk,” kata Sutrisno K Djawa kepada media ini, Rabu (3/1/2019). 

Menurutnya, hasil pertemuan itu pada prinsipnya Pemda Touna siap menerima mahasiswa KKN Unismuh Luwuk. “Prinsipnya mereka siap menerima, welcome. Dan kita akan susul kembali dengan surat resmi ke Pemda Touna,”jelasnya. Bahkan kata Sutrisno, Pemda Touna berharap semua kecamatan yang ada di daerah tersebut bisa terisi oleh mahasiswa KKN. “Pemda Touna inginkan seperti itu, baik kecamatan yang di darat maupun laut bisa terisi semua,” tuturnya. 

Perlu diketahui, Panitia dan LP3M telah turun untuk menyurvei lokasi penempatan KKN di Kabupaten Touna. “Kalau KKN-nya akan dilasanakan pada awal Februari. Kami harap, pelaksanaan KKN tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” harapnya. JAD