Lukisan Opis Art Untuk Sang Presiden

Opis Art
Dhimar Maudjik foto bersama Presiden Joko Widodo, usai menyerahkan lukisan Opis Art, Minggu (23/12/2018). FOTO: ISTIMEWA

Catatan : FRANKI BOTUTIHE

BANGGAI RAYA- Kali kedua kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, dalam rangka peresmian lima bandara di wilayah Sulawesi yang dipusatkan di Bandara SAA, Luwuk, hari Minggu (23/12/2018) menyisakan banyak cerita. Mulai dari ketika presiden ke-tujuh RI itu belanja Kopi Saluan, hingga menerima lukisan dari seorang pemuda asal Desa Koyoan Permai, Kecamatan Nambo, bernama Dhimar Maudjik, yang awalnya ditolak oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Kepada Banggai Raya, anak muda kelahiran Nambo, 13 September 1989 ini, bercerita bahwa lukisan wajah Jokowi itu, rencananya akan diberikan pada acara puncak perayaan Hari Nusantara (Harnus) yang digelar di Pelabuhan Tangkiang, Kecamatan Kintom, tanggal 13 Desember 2018 lalu. Namun, niat itu tak kesampaian, karena kedatangan Presiden Jokowi digantikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, yang juga mendapat oleh-oleh lukisan hasil karya Dimi, sapaan karib Dhimar Maudjik.
Dimi bercerita, bahwa lukisan yang diberikan kepada Presiden Jokowi, bernama Opis Art. Dalam bahasa daerah Saluan, opis berarti serat pelepah kelapa. Untuk menghasilkan satu lukisan wajah hingga selesai, mulai dari proses mempersiapkan opis, melukis, bingkai hingga sentuhan akhirnya, Dimi mengaku membutuhkan waktu sehari saja.
"Saya tidak sangka, kalau itu opis art (lukisan wajah Jokowi, red) yang sederhana, diambil oleh pak presiden. Karena, sebelum saya memperlihatkan karya itu, Paspampres sudah memberi tahu kalau tidak boleh memberi barang kepada presiden. Tapi alhamdulillah, diluar dugaan, karya itu disukai pak presiden, dan dibawa," begitu cerita Dimi, kepada Banggai Raya, via pesan singkat aplikasi media sosial WhatsApp, Rabu (26/12/2018).
Niat Dimi memang hampir tak kesampaian untuk yang kedua kalinya. Beruntung pasangan suami istri Suharto Lalusu dan Anny Kushardjanti, membantunya. Mereka memfasilitasi, agar Dimi, bisa bertemu langsung dengan Presiden Jokowi dan memperlihatkan lukisan tersebut.
Bantuan fasilitasi yang diberikan oleh Suharto dan Anny, dikarenakan keduanya adalah pembina dari sanggar Usaha Seni Kreatif Karang Taruna Koyoan Permai (Unik Katakope). Dan Dimi adalah ketuanya.
Selain opis art, sanggar Unik Katakope juga memiliki andalan lain di bidang karya seni, di antaranya adalah lukisan yang dimuat di atas kulit cumi-cumi berukuran sedang atau yang sering dikenal oleh masyarakat Kabupaten Banggai dengan istilah Suntung Batu.
Lukisan yang banyak mengambil objek fauna khas Kabupaten Banggai seperti burung maleo dan Banggai Cardinal Fish ini diberi nama Sangambal Art. ***

Catatan dari Hari Nusantara 2018 di Tangkiang

harnus tangkiang
Warga yang menyaksikan parade kapal perang pada Hari Nusantara di Pelabuhan Tangkiang. FOTO ISKANDAR



Oleh Iskandar Djiada

Menjaga Laut Merangkai Indonesia


BANGGAI RAYA-Dalam beberapa hari terakhir, Pelabuhan Tangkiang di ujung selatan Kecamatan Kintom, sontak terkenal. Tak hanya menjadi terkenal di kalangan warga Kabupaten Banggai, pelabuhan yang berjarak sekira 40 kilometer dari pusat Kota Luwuk itu, juga menjadi perhatian berbagai kalangan di Sulawesi Tengah dan bahkan nasional.

Ribuan warga, secara bergelombang mendatangi kawasan pelabuhan bongkar muat barang tersebut sejak hampir sepekan terakhir, menyusul penetapan kawasan itu sebagai lokasi peringatan Hari Nusantara. Bukan untuk melihat aktivitas harian pelabuhan, namun kedatangan warga, demi menyaksikan dan mengabadikan langsung alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Sejak pekan lalu,  sejumlah kapal perang kebanggaan Republik Indonesia, memang berlabuh di dermaga Pelabuhan Tangkiang, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Nusantara yang puncak acaranya jatuh pada Kamis, 13 Desember 2018, kemarin. Hari Nusantara, yang tahun 2018 ini digelar di Kabupaten Banggai dan dipusatkan di Pelabuhan Tangkiang, dihadiri langsung Mendagri Tjahjo Kumolo mewakili Presiden RI Joko Widodo.

Berbagai kegiatanpun digelar, mulai dari aksi bersih pantai yang sukses membuat kawasan pesisir pelabuhan itu menjadi super bersih, lomba mancing, bakti sosial kesehatan yang digelar di Puskemas Uling dan di atas kapal bantu rumah sakit KRI dr. Suharso-990, tour atau mengunjungi kapal perang bagi warga, hingga atraksi matra laut yang dipersembahkan oleh pasukan khusus TNI Angkatan Laut dari kesatuan Detasemen Jalamengkara (Denjaka), Komando Pasukan Katak (Kopaska) serta Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Marinir. Berbagai atraksi mulai dari terjun payung, terjun bebas dari helikopter ke atas laut, terjun payung dengan sasaran pendaratan di atas ponton apung serta keahlian mengendarai jetski dan ditutup dengan parade kapal atau sailing pass, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sejak masa awal latihan hingga puncak acara Kamis kemarin. TNI Angkatan Laut sendiri mendatangkan lima Kapal perang Republik Indonesia atau KRI, yakni KRI dr.Suharso, KRI Banda Aceh, KRI Madidihang, KRI Untung Suropati dan KRI Ajak, ditambah dengan satu unit kapal dari Bakamla.

Secara umum, seluruh rangkaian acara peringatan Hari Nusantara yang menyedot perhatian ribuan warga Kabupaten Banggai itu berlangsung lancar, aman dan sukses. Sebagaimana pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo, Kamis (13/12/2018), meski hanya dalam waktu singkat, namun Kabupaten Banggai bisa mempersiapkan dan menggelar kegiatan dengan baik serta sukses. Karenanya, Mendagri atas nama Presiden RI Joko Widodo, menyampaikan apresiasi pada Bupati Herwin Yatim dan jajarannya yang sukses menggelar kegiatan nasional tersebut.

Namun di balik suksesnya kegiatan, mungkin banyak yang belum terlalu paham dengan apa itu Hari Nusantara. Tak heran, bila beberapa hari sebelumnya, ada kelompok massa yang dengan pengetahuan terbatasnya, mempersamakan kegiatan Hari Nusantara dengan sebuah kegiatan lain. Beberapa pihak memang tidak paham atau bisa jadi buta sejarah tentang perjalanan bangsa sejak kemerdekaannya, hingga kemudian bisa memiliki kedaulatan penuh, termasuk berdaulat di laut.
Hari Nusantara yang setiap tahun diperingati tanggal 13 Desember, bermulai dari kondisi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, yang oleh negara lain hanya diakui berdaulat di darat. Perairan yang mengelilingi pulau-pulau ketika itu, dianggap sebagai laut bebas. Kondisi ini tentu mengancam kedaulatan Republik Indonesia. Karenanya, di masa sistem parlementer dan kepala pemerintahan dijabat Perdana Menteri Republik Indonesia Djuanda Kartawidjaya, lahirlah gagasannya untuk menegakkan kedaulatan Indonesia yang seutuhnya dengan menjadikan laut sebagai bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.  Lahirlah dokumen yang disebut sebagai Deklarasi Djuanda.

Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya, dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia, tetapi waktu itu belum diakui secara internasional.
Berdasarkan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar (kecuali Irian Jaya), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut.

Setelah melalui perjuangan yang penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan hari ini dipertegas oleh Presiden Megawati dengan menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 tentang Hari Nusantara, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional tidak libur.

Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan: (1) bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri, (2) bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan, (3) ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan : (1) untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat, (2) untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan, (3) untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Dekalarsi Djuanda sendiri dianggap sebagai pernyataan resmi kemerdekaan yang kedua, karena mempertegas bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat di darat dan di laut. Laut bukanlah pemisah bagi pulau-pulau di gugusan kepulauan Republik Indonesia, namun pemersatu gugusan kepulauan tersebut. Menjaga laut dan kedaulatannya, sama dengan menjaga Indonesia, sebab laut adalah kawasan yang merangkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah penetapan Hari Nusantara, pemerintah kemudian menunjuk Kementerian Dalam Negeri sebagai penyelenggara, dengan operasional di lapangan dilakukan oleh oleh TNI Angkatan Laut, sebagai penjaga dan pengawal kawasan laut Republik Indonesia. Karenanya, peringatan Hari Nusantara sangat lekat dengan TNI Angkatan Laut, termasuk peringatan yang baru saja digelar di Pelabuhan Tangkiang, Kabupaten Banggai.

Selain untuk meneguhkan kedaulatan Indonesia di wilayah laut, Hari Nusantara juga menjadi momen untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa di laut ada potensi kekayaan nasional yang besar, dan bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat serta pembangunan bangsa. Dalam istilah yang disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo kemarin, sudah saatnya bagi kita untuk tidak memunggungi laut.

Momentum Hari Nusantara, harus dimanfaatkan pula untuk mempertegas sikap seluruh elemen untuk menolak perusakan laut, dan siap melawan praktik-praktik perusakan sumber daya dan biota laut.  Termasuk dalam hal terkecil, adalah menolak  praktik tak terpuji yang menjadikan laut sebagai tempat berbagai jenis sampah. Dalam skala paling kecil inilah, seluruh elemen di Kabupaten Banggai bisa menunjukkan perannya untuk menjaga kawasan perairan agar tetap bersih dan lestari, sehingga bisa menjadi sumber kehidupan di masa mendatang. Selamat Hari Nusantara.**

Mengais Rejeki dari Batu Hitam


BANGGAI RAYA- Rabu petang sekitar pukul 16.00 wita, di pantai Desa Binsil Kecamatan Bualemo, dua wanita paruh baya, Hatin (65) dan Suriati (62), warga Dusun I, Desa Binsil Padang Kecamatan Bualemo, tetap semangat bekerja mengumpulkan batu kecil berwarna hitam untuk dijual. Pekerjaan mengumpul batui kecil berwarna hitam, demi memenuhi kebutuhan hidup.

Meski memperoleh pendapatan yang tidak menentu, tetapi hal itu tidak membuat mereka putus asa. Sebab kegiatan mengumpul batu kecil hitam untuk dijual, bagi mereka lebih mudah untuk memperoleh uang, dibanding harus beraktivitas di tempat lain.

“Pekerjaan ini bagi saya tidak menguras tenaga, dengan usia saya yang sudah 65 tahun, bagi saya ini sudah cukup untuk menambah penghasilan membiayai kebutuhan hidup saya sandiri,” kata Hatin.

Kebutuhan menanggung hidup sendirian telah lama dijalaninya, setelah kepergian sang suami beberapa tahun lalu, dan kedua anaknya kini telah berumah tangga.

Hatin mengaku, batu-batu berwarna hitam kecil dengan ukuran 4 Cm persegi itu, dibeli dengan harga Rp6.000/satu karung gula isi 30 Kg. Sehari, ia bisa mengumpulkan 6 karung, bahkan kadang lebih.

Untuk memperoleh batu kecil berwarna hitam, membutuhkan proses pemisahan ukuran batu dan pasir. Pemisahan itu dilakukan dengan cara mengayak sebanyak dua kali. Pertama untuk memisahkan ukuran batu besar dan batu kecil. Buangan batu kecil tadi kemudian disaring lagi, agar pasir dan ukuran batu yang lebih kecil terpisah, barulah kemudian dipisahkan lagi, dan batu berwarna putih akan dibuang.

Batu itu kata Hatin, akan dijual ke Bali. Namun ia tak tahu digunakan untuk apa. Ia mengatakan, penjulan batu tidak sulit, sebab di Desa Binsil sendiri telah ada pembeli bernama Daim.

Pecarian batu itu tidak sulit, sebab pesisir pantai Desa Binsil memiliki potensi batu, sehingga sangat mudah mendapatkannya.

Pekerjaan yang dilakukan Hatin tidak sendirian. Ia ditemani seorang wanita bernama Suriati (62), warga setempat. Setiap harinya, mereka selalu bersama mencari batu hitam.

Suriati memiliki 5 orang anak, dua anaknya telah berumah tangga. Ia kini tinggal bersama suaminya yang beraktiviats sebagai nelayan dan tiga anaknya yang belum menikah. Suriati mengaku pekerjaan ini dilakukan untuk menambah kebutuhan rumah tangga.

Keduanya mengaku, mereka tidak pernah tersetuh bantuan, baik dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa sendiri. Salah satu yang mereka tidak rasakan, adalah bantuan Rastra atau dulunya disebut Raskin. Selama beberapa tahu pemerintah desa kata mereka, tidak pernah memberikan beras sejahtera kepada mereka. Meski demikian, mereka tak banyak berharap bantuan itu. MAD

MENCINTAI ULAMA


Catatan: Sutopo Enteding


ARAH jarum jam menunjukkan pukul 21:14 Wita, semalam di ruang redaksi. Jam segini adalah jam sibuk teman-teman redaksi menyiapkan naskah untuk terbitan edisi paginya. Untuk ‘menyempurnakan’ suguhan informasi, maka saya membuka tab website di layar laptop Lenovo berukuran 14 inc.

Paling tidak ada 10 website yang saya buka untuk mendapatkan informasi menarik. Tak hanya menarik, tapi berkesesuaian dengan kebutuhan informasi bagi warga di tiga kabupaten ‘Banggai’ (Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut). Website yang tidak boleh ketinggalan itu adalah antaranews.com (website informasi Lembaga Kantor Berita Nasional/LKBN Antara yang berbayar), KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk memastikan model penulisan benar menurut kamus Bahasa Indonesia serta Youtube (kalau situs yang satu ini buat hiburan dengarkan musik ketika tengah editing) dan beberapa situs lainnya.

Dari kesibukan membuka beragam situs, saya cukup terkesan dengan informasi yang disadur oleh viva.co.id. Beritanya tentang Ustad Abdul Somad, Lc, MA. Siapa tak kenal Ustad Abdul Somad (UAS)?

Di berita dengan judul “Tengok Gaya Ustaz Abdul Somad Ngegas RX King”, pria kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatera Barat 40 tahun silam lulusan Al Azhar Kairo ini sempat diabadikan tengah memacu motor pabrikan Yamaha menuju tempat untuk mengisi tausiah Ramadhan.

Selain berita, terdapat pula video amatir yang direkam kelompok bikers ketika tengah menjajal motor RX King. Dengan kecepatan cukup tinggi, UAS berbalut jaket.

Penampilan Ustad Abdul Somad, salah satu dai kondang yang tenar melalui postingan di situs penayang video Youtube cukup sederhana. Walaupun tak termasuk dalam daftar 200 dai yang direkomendasikan oleh Kemenag itu, tapi UAS mendapat banyak simpati. Bahkan, ia tak henti-hentinya mendapatkan undangan bukan hanya di tanah Riau, tapi di berbagai wilayah nusantara. Bahkan, mengisi pengajian hingga luar negeri.

Ada hal menarik dari tampilannya itu. Salah satunya adalah keserhanaannya, baik dalam penampilan ditambah kesederhanaannya menyampaikan tausiah.

Keserhanannya inilah yang dikagumi Ummat Islam. Bahkan, ketika ia dijegal tak boleh menyampaikan ceramah di salah satu daerah, bukannya Abdul Somad yang bereaksi, tapi ummat Islam. Ini bukti bahwa UAS adalah ulama yang disayangi oleh ummat Islam.

Ulama di Indonesia jumlahnya cukup banyak. Sudahlah, berhitung di urusan status ustadz. Ustadz di Indonesia sangatlah banyak. Tapi, ada pula cap ustadz itu belum tentu mendapatkan rasa kecintaan kaum muslimin dan muslimat. Mengapa demikian, karena kecintaan kaum muslim itu tidak dibuat-buat atau sengaja. Rasa cinta itu muncul dengan sendirinya, karena kedalaman ilmunya disertai dengan perangainya.

Tentu berbeda rasa ketika kedalaman ilmunya tak berbanding lurus dengan perangainya dalam hubungan sosial kemasyarakatan keseharian.

Tak jarang, status berilmu dijadikan sebagai tameng bagi orang-orang tertentu. Membenarkan oknum dan tak sulit menyalahkan orang lain yang bersebarangan dengan oknum yang dibelanya. Ya, sudah barang pasti, kecintaan sulit muncul.

Dari berbagai literature menyebutkan bahwa Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu agama. Mensyiarkan pengetahuan pada umat agar tetap berpegang pada kebenaran di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ulama berperan mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada umat agar mereka berilmu dalam beramal. Sebab keimanan, ucapan, dan perbuatan apabila dilakukan tanpa disertai dengan ilmu maka semuanya malah bisa menjadi pedang yang menghunus, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Pemahaman dalam urusan agama harus menjadi pendalaman yang mendarah daging. Apalagi ketika kita dihadapkan pada berbagai kewajiban yang menuntut kita untuk mengetahui ilmunya.

Sebagai umat Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk memuliakan ulama. Salah satu hadits di Kitab Lubabul Hadits bahwasanya Rasulullah bersabda “Hendaknya kamu semua memuliakan ulama, karena mereka itu orang-orang yang mulia menurut Allah dan dimuliakan,”. Cukup banyak hadits Nabi Muhammad yang menganjurkan kita memuliakan ulama.

Sang pengunggah di jejaring instagram dengan nama akun @FODAMARA hingga malam tadi telah disukai sebanyak 5.214, jumlah ini dipastikan akan terus bertambah. Postingannya seperti berikut ini, “bela.agamaVideo Ustadz Abdul Somad Menaiki Motor RX KING. Ungkapkan perasaan kalian setelah melihat video ini :) sembari mendoakan Beliau (Tuan Guru Ustadz Abdul Somad Lc.MA). Catatan untuk kita semua. Beliau pagi mengisi dikelas (ngajar) hingga sore mandi lalu mengisi di Masjid Raya Ba'da Magrib, hingga pukul 9(kurang). Dan Harus berangkat menggunakan motor ke lokasi tausiyah bersama Komunitas Motor guna mensyiarkan dakwah. Tiada istirahat kah gurunda ustadz abdul somad :') kami bersamamu ✊✊ KAMI SIAP BELA ULAMA!!!.

Unggahan ini banjir komentar. Komentar terbanyak adalah mendoakan Ustad Abdul Somad, agar Allah senantiasa memberikan kesehatan dan istiqomah. Dengan modal sehat dan istiqomah itu, Abdul Somad tetap menyiarkan Syariat Islam.

Saya memang tidak pernah bersua dengan Ustad Abdul Somad. Saya hanya mempelototi dan mendengarkan berbagai tausiahnya di layar monitor melalui jejaring situs Youtube. Meskipun saya tidak pernah bersua, tapi saya merasa sangat dekat.

Ayo cintai ulama. ***

CERITA SYAIKH MARWAN ASAL PALESTINA BUKBER WARTAWAN DI KABUPATEN BANGGAI


Senyum Syuhada Jemput Kemerdekaan dan Sulitnya Bantuan Negara Arab

PALESTINA, satu-satunya negara di belahan dunia belum merdeka itu terus berjuang melepaskan diri dari penjajahan Israel. Ribuan senyum syuhada warga Palestina tak pernah pupus, seolah selalu menghiasi tabir perjuangan. Mereka tak pernah lelah, semangat mempertahankan akidah dan Mesjid Alquds, mesjid suci Umat Islam.

Momen buka puasa bersama Syaikh Marwan Ata Mustafa Almalhi bersama para pewarta di Hotel Kota, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sabtu (26/5/2018) ia menyampaikan banyak hal tentang Palestina.

OLEH: SUTOPO ENTEDING

Kisah heroik perjuangan warga Palestina melawan penjajah Israel selalu menarik perhatian publik. Di berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara komunitas muslim, Palestina bukan hanya masalah masyarakatnya sendiri, tapi masalah bersama. Heroik, karena perlawanan tak seimbang. Warga Palestina hanya mengandalkan batu, intifhadah (pisau) berhadapan dengan tank lapis baja milik Israel, bangsa Yahudi.

Perjuangan berikut masalah Palestina cukup ‘legit’ diulik pewarta. Momen kehadiran para syaikh ketika bulan suci Ramadhan, merupakan kesempatan mendengarkan kisah langsung dari pelaku sejarah perang di Jalur Gaza. Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), lembaga kemanusiaan yang mengkhususkan diri membantu meringankan beban warga Palestina, setiap Ramadhan menghadirkan para syaikh dari Palestina untuk bertausiah di bulan penuh rahmah, sekaligus menggalang donasi.

Untuk Kabupaten Banggai, Syaikh Marwan Ata Mustafa Almalhi yang diutus. Kehadiran Syaikh Mustafa yang di-schedule KNRP Banggai ini berkesempatan bertemu pewarta di Luwuk. Cerita masalah Palestina hingga diskusi pun berlangsung.

Syaikh Marwan dalam penyampaiannya berbahasa Arab yang diterjemahkan Ketua KNRP Banggai, Iswan Kurnia Hasan mengawali pembicaraannya dengan menyampaikan kebagiaannya bisa hadir di Indonesia, khususnya di Kabupaten Banggai. Bahagia, karena dirinya merasa seperti di rumah sendiri. Jalinan Ukhuwah Islamiyahlah yang mempersatukan.

Dirinya mewakili warga Palestina menyampaikan ucapan terimakasih tak terhingga atas sikap Indonesia yang tidak mengakui Israel di tanah Palestina.

Terhadap wartawan, Syaikh Marwan pun tak lupa berterimakasih. Ia menilai, tulisan wartawan terhadap fakta Palestina adalah bagian dari bantuan perjuangan warga Palestina merebut kemerdekaan sejati. Menampilkan berita obyektif tentang Palestina untuk membuka cakrawala berpikir banyak orang. Bahwasanya demikianlah Palestina, bukan rekayasa.

Kali ini, ia hanya menjelaskan dua hal. Pertama, masalah akidah. Kedua, masalah politik. Masalah akidah di Palestina, karena Mesjid Aqsa adalah kiblat pertama Umat Islam. Sedangkan, politik dalam hal hal ini membicarakan sebuah negara yang harus merdeka bernama Palestina dan sampai hari ini masih dalam penjajahan Israel.

Ketika berbicara tentang akidah, maka akan melihat bahwa Alquran telah bicara, hadits Rasul bicara tentang Masjid Aqsa, cerita-cerita para sahabat juga tentang Mesjid Aqsa. Di dalam Alquran, Allah berfirman, maha suci Allah telah memperjalankan Rasulullah dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsa. Ayat ini menggabungkan antara Mesjidil Haram di Mekkah dan Mesjid Aqsa di Palestina, seakan tidak ada keterpisahan di antara keduanya.

Rasulullah bersabda, “Kita tidak diharuskan bepergian, kecuali ke tiga mesjid, yakni Mesjid Nabawi di Madinah, Mesjidil Haram di Mekkah dan Mesjid Aqsa di Palestina”. Kembali Rasulullah menggabungkan tiga tempat suci.

Seorang sahabat Rasulullah, sahabat wanita pernah bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, “Apa yang harus kami lakukan di Mesjid Aqsa. Rasulullah menjawab, sholatlah di dalamnya kalau engkau mampu, kalau engkau tidak mampu, maka kirimkanlah niat untuk menerangi lampu-lampu yang ada di Mesjid Aqsa”. Artinya, semua rujukan di dalam Syariat Islam, membicarakan tentang Mesjid Aqsa. Ini menunjukkan keistimewaan MESJID AQSA di dalam Syarita Islam.

Oleh karena itu, warga Palestina datang ke Indonesia, karena keterkaitan Islamnya. “Kami datang ke Indonesia untuk mengunjungi saudara kami, kakak kandung terbesar kami yaitu Indonesia, untuk bersama-sama peduli dengan Mesjid Aqsa,” kata Syaikh Marwan.

Ia menjelaskan, setiap muslim wajib peduli dan mendukung terhadap Mesjid Aqsa, minimal dengan doa, minimal memberikan dukungan atau kalau tidak, bila memiliki kelebihan untuk menginfakkan sebagian dari harta. Rasulullah bersabda, “Seseorang yang tidak peduli terhadap sesama muslim, bukanlah bagian dari Islam”. Dan sebelumnya, Alquran menegaskan, sesungguhnya orang-orang muslim itu bersaudara, satu dengan yang lain.

Maka, tidak dikatakan seorang muslim apabila menyia-nyiakan Mesjid Haram, tidak dikatakan seorang muslim apabila menyia-nyiakan Mesjid Nabari, tidak dikatakan seorang muslim apabila menyia-nyiakan Mesjid Aqsa.

“Ini yang terkait dengan akidah ketika kita bicara tentang Palestina dan Mesjid Aqsa, tapi saya tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena kita rata-rata sudah mengetahuinya sebagai seorang muslim,” jelas dia.

Yang menjadi titik tekannya adalah hal kedua. Unsur yang terkait dengan politik, hal yang terkait dengan kemanusiaan di Palestina. Hal yang terkait dengan hubungan sesama negara. Hubungan internasional yang terkait dengan Palestina.

Sampai saat ini, satu-satunya negara di dunia ini yang belum merdeka adalah Palestina. Dan terjajah di atas bumi hanya Palestina. “Sebagai seorang manusia normal dan merdeka, kita tidak akan mungkin mengakui sebuah negara dijajah oleh negara lain. Tapi sampai saat ini tetap dijajah oleh Israel,” katanya.

Palestina tutur dia, telah terjajah sejak tahun 1948. Penjajah Israel datang, lalu mencaplok satu demi satu tanah Palestina. Kemudian pada tahun 1967, boleh dikatakan seluruh wilayah Palestina sejak saat ini, sudah terjajah.

Ketika bicara Palestina, maka akan membicarakan dua jenis. Pertama, masyarakat Palestina yang mendiami wilayah Palestina yang sudah terjajah di tahun 1948 dan di tahun 1967. Jadi, ada wilayah-wilayah di dalam Palestina yang sampai saat ini masih dihuni warga Palestina akibat penjajahan dari tahun 1948 dan tahun 1967.

Kondisi mereka kalau tidak didzolimi di Palestina, maka mereka akan dipenjara, diberikan tindakan-tindakan kemanusiaan yang tidak beradab. Saat ini, Palestina adalah penjara terbesar di dunia.

Kedua, masyarakat Palestina yang terusir akibat penjajahan 1948 dan 1967. Sejak itu hingga kini, mereka tetap melakukan diaspora, tetap dicap sebagai pengungsi Palestina.

Jumlah masyarakat Paletina kira-kira 12 juta jiwa. Enam juta jiwa berada di Palestina, 6 juta masyarakat lainnya atau setengah berada di luar Palestina, di kamp pengungsian yang berada di Suriah, Lebanon, Yordania, Mesir dan negara-negara lain.

Fokus mereka di dalam penggalangan donasi dan Safari Ramadhan berkunjung ke negara-negara komunitas muslim adalah terkait dengan enam juta masyarakat yang ada di dalam Palestina. Mereka belasan tahun, puluhan tahun ternodai, didzolimi, dipenjara oleh Israel. Bahkan, belum lama ini masih ada syuhada yang gugur dari Palestina, masyarakat tidak berdoa pun gugur terjadi beberapa hari lalu.

Sejak dua bulan lalu dimulai aksi great return march atau aksi kepulangan akbar warga Palestina untuk masuk ke tempat Israel yang dulu merupakan tempat mereka. Sampai saat ini, telah gugur 100 orang lebih syuhada. Kira-kira 11 ribu orang terluka yang berada di rumah-rumah sakit di Palestina.

“Kita juga telah mengetahui bersama, terkait program Yahudisasi. Termasuk Yahudisasi di Mesjid Aqsa. Finalnya, ketika Presiden Amerika Donald Trump memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem. Yerusalem adalah bahasa Arabnya adalah Alquds, tempat suci Umat Islam. Yang di dalamnya, terdapat Mesjid Aqsa. Berarti, seluruh wilayah Yerusalem, seluruh wilayah Alquds, seolah telah menjadi milik Yahudi. Seakan-akan telah berada di bawah kekuasaan Israel,” urai Syaikh Marwan.


Masyarakat Palestina meyakini dan tak pernah berubah bahwa Palestina ibukotanya adalah Alquds. Olehnya itu, beragam solusi yang diberikan dunia yang kemudian menggeser dan menodai, maka warga Palestina tidak akan pernah menerimanya. Misalnya, warga Palestina diminta bergeser dan diberikan imbalan yang cukup, tapi bagi warga Palestina tetap ibukotanya alquds, yang di dalamnya terdapat Mesjid Aqsa.

Ia menaruh harap, kasus Palestina bisa tetap hidup di setiap hati dan jiwa-jiwa merdeka kaum muslimin bahwa masih ada saudara di Palestina yang belum merdeka sampai saat ini.

Oleh karena itu, mereka sangat menghargai setiap dukungan, baik itu materi maupun bentuk maknawi. “Kami sangat menghargai dukungan kaum muslimim di belahan dunia terhadap kami yang belum merdeka,” ucap dia.

Mereka datang ke Indonesia, semata-mata mengajak untuk memberikan dukungan kepada Palestina. Mereka datang sebagai bentuk rasa syukur yang telah memberikan bantuan. “Kami berterimakasih kepada pemerintah Indonesia, saat ini ada rumah sakit yang berdiri di Palestina, Jalur Gaza hasil sumbangan Indonesia,” katanya.

Terimakasih kami juga disampaikan kepada lembaga-lembaga kemanusiaan, seperti KNRP yang telah menggalang donasi dari kaum muslimin Indonesia.

“Sekali lagi, kami ucapan terimakasih atas kehadiran dari teman-teman media. Apa yang ditulis teman-teman pers adalah salah satu bentuk dukungan terhadap perjuangan kami di Palestina,” apresiasi Marwan.

Ucapan terimakasih kepada Bupati Banggai yang telah mengumpulkan seluruh jajaran ASN dan mengajak berdonasi. “Mulai saat ini, kita membuka jalan pembebasan Palestina di bawah panji La Ilaha Illah, Muhammad Rasulullah,” serunya.

Setelah menyampaikan ceramahnya, Syaikh Marwan memberikan kesempatan kepada para pewarta untuk menyampaikan pertanyaan. Beragam pertanyaan muncul. Seperti, peran negara-negara Arab terhadap kondisi Palestina. Sebab, Palestina terletak di antara negara-negara Arab.

Menurut Syaikh Marwan, negara-negara Arab telah melakukan peran-perannya, tapi peran itu dirasakan belum cukup maksimal bagi warga Palestina. Seandainya, negara-negara Arab menjalankan perannya secara maksimal, sudah dari tahun-tahun lalu, masalah Palestina sudah selesai. Sayangnya, peran itu belumlah maksimal.

Lalu, apa peran yang belum maksimal dilakoni negara-negara Arab? Menurut dia, satu negara Arab saja bisa membebaskan Palestina. Hanya masalahnya dan sudah diketahui bersama bahwa negara-negara Arab memiliki keterkaitan dengan Amerika. Tidak ada yang benar-benar terbebas dari kepentingan luar negeri.

Syaikh Marwan tidak menyebut negara Arab. “Dan saya nasehati, antum (kalian dalam menulis berita) tidak mencantumkan negara Arab itu,” pinta Marwan.

Sebenarnya, dirinya tidak bicara fomalnya sebuah negara. Coba bayangkan, jumlah umat Islam di dunia, 1,5 miliar banyaknya melawan 12 juta jiwa penduduk Israel. Jumlah 1,5 miliar, maka berkali-kali lipat kekuatan militer Israel tentu bisa dikalahkan. Negara Islam di duinia ini sebanyak 54 negara dengan hanya melawan satu negara. Kalau sudah maksimal peran itu, maka selesai sudah Israel. Itulah masalahnya.

Peran ini tidaklah maksimal dilakukan.Olehnya itu, tidak bicara formal-formal negara, karena tidak pernah berhasil. Pada akhirnya kata dia, perjuangan itu harus dilakukan sendiri oleh warga Palestina sendiri pula.

Dulu, Indonesia selama 350 tahun dijajah oleh Belanda. Kenapa orang-orang muslim dari luar tidak datang ke Indonesia dan membantu? Dan permasalahan itu diselesaikan oleh orang muslim, orang Indonesia sendiri. Mereka yang membebaskan belenggu penjajahan. Dan Alhamdulillah, 70 tahun sudah Indonesia merdeka.

Sebagaimana Indonesia, sabar dan melawan penjajahan itu selama 350 tahun dan tidak semangat maupun keyakinan mereka untuk merdeka tetap membuncah. Seperti itulah semangat Palestina.

Palestina dan Mesjid Aqsa pernah dijajah oleh Pasukan Salib, 90 tahun lamanya, tapi mereka bersabar. Yakin dan percaya akan tetap berakhir. Setelah itu, datang Salahuddin Al Ayubi untuk membebaskan Mesjid Aqsa.

Penjajahan Isreal itu baru berumur 70 tahun. “Dan saya yakin Insya Allah, kami akan sholat di Mesjid Aqsa. Dan saudara-saudara sekalian, akan sholat di Mesjid Aqsa pada saat itu Mesjid Aqsa dalam keadaan merdeka,” kata Marwan.

Kalau seandainya masyarakat Palestina mau menyerah dan tidak mau jadi syuhada, maka mereka akan bisa hidup dalam kemakmuran. Karena begitu banyak iming-iming dan janji kemakmuran ketika keluar dari Palestina. “Tapi, kami tetap bertahan di Palestina, kami tetap memberikan para syuhada, agar suatu saat Palestina akan tetap merdeka,” tegasnya.

Diskusi menarik lainnya terkait dengan status Palestina yang tidak berhasil merdeka seperti layaknya Indonesia. Indonesia pun merdeka, salah satunya adalah pengakuan dari negara lain. Begitu kencangnya semangat negara luar termasuk Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina, tapi apa hasilnya hingga saat ini. Palestina pun belum merdeka.

Termasuk juga semangat mendukung kemerdekaan Palestina dari negara lain dengan menyumbang peralatan perang untuk mendukung perlawanan penjajah.

Menurut Syaikh Marwan, sampai saat ini Palestina belum merdeka. Sesuai makna kemerdekaan sesungguhnya yang didapat Indonesia pada tahun 1945. Di Palestina yang terjadi adalah disebut pemerintah otorita Palestina. Israel itu memberikan dua bidang tanah, yakni di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Kemudian, diberikan pemerintah otorita Palestina, mengurusi masalah yang terkait dengan sipil dan kewarganegaraan. Itu saja yang diberikan.

Jadi yang diakui dan diakui negara internasional adalah pemerintah otoritas Palestina saja. Wilayah otonom yang berada di pemerintahan Israel. Di Indonesia seperti di Aceh, tapi itu bukan sebuah kemerdekaan. Hanya disebut pemerintah otorita. “Inilah yang kami katakana Palestina belum merdeka,” kata dia.

Jika ditanyakan, apa yang telah dilakukan oleh warga Palestina? Siapa yang memberikan para syuhada? Siapa yang telah memberikan penjarah di Israel, siapa yang memberikan janda-janda di Palestina? Gugurnya warga, anak-anak, orang tua, wanita tak berdosa? Jawaban semua itu adalah Palestina.

Permasalahannya adalah mereka berjuang dengan tidak memiliki senjata. Mereka berjuang dengan batu, berjuang dengan intifhadah (pisau). Itu masalahnya. “Kalau ditanya apa yang telah kami lakukan, kami sudah lakukan segala hal,” ungkap dia.

Sejak tahun 1948, masyarakat Palestina telah melawan. Telah ada perjuangan besar. Ada nama Fajar Husain yang membuat perlawanan besar. Ada pula yang dipimpin Izzudin Alkassaf, pahlawan Palestina yang sangat fenomenal.

Perlawanan ini beralih ke politik, bukan hanya benturan fisik semata. Pada tahun 1965, berdiri Palestine Liberation Organisation atau disingkat PLO. Terus tahun 1987, berdiri Hammas. Ini semua didirikan untuk perlawanan, baik politik maupun fisik dan bentuk perlawanan yang lainnya. Artinya, masyarakat Palestina tidak pernah berhenti melawan.

Sementara terkait dengan bantuan persenjataan untuk bisa beradu perlawanan dengan Israel, Syaikh Marwan mengungkap tidak ada. Kenapa demikian? Ungkapan awalnya bahwa negara Arab masih bergantung dengan negara luar adalah jawabannya. Bagaimana mungkin ekonominya bergantung pada negara lain, dapat memberikan bantuan semisal persenjataan kepada Palestina. Sedangkan Israel seperti negara kuat, karena di bawah kendali negara luar yang menjadi sumber ketergantungan ekonomi negara-negara Arab.

Meskipun syuhada berguguran dan sulitnya bantuan negara-negara Arab, tapi warga Palestina tetap berjuang dan yakin seyakinnya bahwa kemerdekaan itu akan tetap mereka raih. ***

#Kabupaten Banggai #banggairaya